Apa yang disuguhkan dari sebuah konser tribute?
Yang paling utama adalah untuk "menyalurkan" hasrat sembari berharap band yang di-tribute mengadakan actual show
. Dan seberapa besar hasrat itu bisa dilihat dari antusiasme penampil dan penonton yang terangkum dalam satu kata: maniak!SELEPAS penyelenggaraan Pearl Jam Nite 2, Desember tahun lalu, muncul banyak pertanyaan mengenai event ketiga. Biasanya seputar konsep acara yang dalam dua kali penyelenggaraan hampir dalam konteks yang sama: 5 atau lebih band membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Banyak kritik yang masuk ke panitia pada waktu itu, bahwa dengan banyaknya lineup, maka
mood penonton yang sudah terlanjur "tune" dengan salah satu band bisa menurun ketika band berikut kurang mampu menampilkan performa terbaiknya.
Untuk penyelenggaraan ketiga, cukup tiga band yang didaulat membawakan lagu-lagu sakral dari Pearl Jam. Dua band asal kota kembang, Bandung - yang menjadi kota tuan rumah acara - ,
Zu dan
Junkhead mendapat mandat. Ditambah dengan alumnus hajatan pertama di 2005,
Dua Sisi, yang mengisi jatah seleksi panitia. Zu adalah band independen asal Bandung yang tengah bergairah meniti karir di dunia musik Indonesia selepas
launching mini album mereka. Sementara Junkhead melegenda di kancah lokal sebagai pengibar bendera "Seattle Sound", meski vakum 2 tahun dan reuni khusus untuk acara Pearl Jam Nite 3. Dua Sisi sendiri masih bergulat dengan demo album mereka, selepas mini album mereka launching di akhir 2005 lalu.
So, the set is up and the event is running. Sebelum hari H, panitia menyebar brosur tentang acara ini ke penjuru Bandung dan lewat bombardir internet. Sayang, publikasi yang sudah berjalan bagus justru menjadi bumerang.
Venue awal, JB's Fun Bar, Hyatt Bandung tiba-tiba membatalkan kesepakatan menjadi tuan rumah 3 hari menjelang
event! Terlanjur sebar, panitia membuat
arrangement mendadak dengan
Classic Rock, sebuah bar di bilangan Braga Bandung. Pemberitahuan hanya disusulkan melalui notifikasi sms dan imel dua hari menjelang. Sangat terlambat, apalagi dari pengamatan lebih dari separuh brosur yang disebar di distro-distro dan spot komuniti lain di Bandung ludes. Logisnya, harapan akan membludaknya antusiasme
barudak ke event menjadi makin jauh, dan yang paling mungkin adalah membuat acara yang berkenan bagi siapapun yang membaca perubahan
venue dan datang ke Classic Rock.
Venue Classic Rock, sempit tetapi malah menjadi keuntungan akibat hilangnya potensial audiens yang tidak tahu perubahan venue. (photo: AWANG) Beruntung, Classic Rock adalah sebuah bar yang tidak terlalu besar. Di bangunan yang didominasi imej dan memorabilia musisi almarhum Jim Morisson dan Jimi Hendrix ini hanya mempunya
space sekitar 6 x 3 meter persegi untuk
stage ditengah
flow ruang menuju bar dan lantai atasnya. Di depan
stage, terpisah jalan selebar satu setengah meter, berderet bangku pub yang menempel ke dinding.
So small, yet so intimate. Jarak panggung dengan audiens sangat dekat, membawa ke
show "personal". Mirip dengan pub-pub di Seattle yang menjadi
setting lahirnya gelombang musik alternatif di akhir 80-an.
Pukul 19.30, massa mulai berdatangan. Rata-rata adalah wajah-wajah familiar dari komunitas
PJ.Id yang melek dengan perubahan
venue. Usut punya usut, pihak JB's Fun ternyata menolak mem-
forward (atau sekedar menempel informasi perubahan
venue) calon audiens yang terlanjur ke sana.
But the show must go on. Tepat di angka 8, jam berdentang seiring dengan gemuruh audiens menyambut Zu membuka acara dengan deru bas dan ritem yang mengiringi lagu
Animal. Ini adalah kali pertama mereka membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Jadi, vokalis Zu harus membagi konsentrasinya dengan bermain bass sekaligus sesekali melirik catatan lirik lagu yang terpampang di depannya.
Amazingly, so smooth dan mampu menciptakan euforia kecil di kalangan audiens yang mulai beranjak ke angka 30-an kepala. Lagu berikut,
Rearviewmirror dan
Wishlist mengawal ke sebuah
intro yang familiar dengan audiens...
Vokalis-bassis Zu, membuka acara dengan performans perdana mereka membawakan lagu Pearl Jam. (photo: ADE RIDWAN) World Wide Suicide dari album terbaru dinyanyikan dan memicu apresiasi penonton. Di hajatan PJ Nite 2 lalu, lagu ini jadi satu-satunya wakil "Avocado" dan dibawakan di awal acara. Tetapi di sini, penonton jauh lebih
aware untuk menyanyikan bait demi bait lagu yang mengecam kebijakan George W. Bush tersebut bersama vokalis Zu.
It's the same everyday in a hell man-made What can be saved, and who will be left to hold her? The whole world...world over. It's a world wide suicide Bunuh diri massal itu akhirnya ditutup dengan riff lagu
Even Flow. Nomor klasik dari album epik Ten yang menjadi debut awal Pearl Jam di blantika musik internasional. Applaus layak diberikan kepada Zu atas pilihan
setlist unik mereka (2 album Versus, dan masing-masing satu Yield, Ten dan Pearl Jam). Mereka menandai debut membawakan Pearl Jam dengan apik dan harapan kian membumbung menyambut band kedua, Dua Sisi.
Dua Sisi mempersiapkan pertunjukan mereka dengan
setting serius.
Andra, vokalis dan gitaris band asal Jakarta ini membuka dengan dialog ke audiens sembari
keyboard dipersiapkan.
Keyboard menjadi instrumen wajib Pearl Jam akhir-akhir ini setelah "klik" antara Kenneth "Boom" Gaspar dan Vedder cs. Dua album terakhir memiliki warna dominan di instrumen kembangan piano ini. Hal itu memicu asumsi penonton jika Dua Sisi mungkin akan memilih
setlist yang banyak memuat lagu dari dua album terakhir.
Dua Sisi, veteran PJ Nite 1, kali ini menjadi headliner dengan 8 lagu sekaligus dalam satu show. (photo: ADE RIDWAN) Pendapat itu ada benarnya ketika 3 nomer sekaligus, yang membuka
show mereka, dicomot dari dua album terakhir.
Severed Hand membuka dengan efek suara kibor yang disahut oleh deru drum dan ritem gitar. Lagu kedua adalah
Life Wasted yang notabene merupakan nomor pembuka album terakhir Pearl Jam (rilis tahun 2006 lalu). Lagu itu disusul dengan
Save You yang merupakan gacoan dari album Riot Act (rilis 2003). Setelah berselang balada
Black yang dinyanyikan secara koor oleh audiens (mungkin sudah mulai mencapai 50-an pengunjung), kibor kembali beraksi dengan "rarity"
Army Reserves. Lagu ini sontak mendapatkan apresiasi lebih dari
die-hard fans. Bisa dihitung jari pengunjung yang turut bernyanyi. Setelah "terasing" dengan balada keluarga prajurit Irak tersebut, getaran intro dari lagu pembuka album Yield bergaung di ruangan yang relatif kecil.
Brain of J turun dengan power
full yang dibawakan Andra cs. sambil terselip riff reggae di interlude lagu.
and by name the name they gave me the name i'm letting go...Deru drum segera menimpali teriakan Andra. Drummer Dua Sisi,
Iit, bermain sangat prima dengan memberi energi dibalik ketukan-ketukannya. Hal itu kentara ketika membuka lagu
Insignificance dengan deret riff drum sebagai wakil dari album keenam, Binaural (rilis 2000). Selain di Brain of J, Iit memberi ketukan-ketukan ala Jack Irons di lagu-lagu yang justru mulai identik dengan Matt Cameron.
I Got Shit menutup sesi Dua Sisi, meski mendapatkan
request untuk membawakan Jeremy, tetapi patuh pada
rundown panitia yang memang hanya dibatasi sampai jam 22.00 sebelum band reguler Classic Rock tampil.
Headliner dipersiapkan di akhir acara. Junkhead yang tenar di Bandung dengan imej
Seattle Sound-nya membuka dengan
Grievance. Disusul dengan
Breath yang ternyata mendapatkan banyak respon positif dari penonton. Lagu-lagu era lama memang selalu melekat di hati pecinta rock pada umumnya, sehingga lagu seperti Breath yang berada di kompilasi legendaris OST Single tersebut sangat populer. Selepas Breath yang menuntut oktaf tinggi, Junkhead reses sejenak untuk mengantar
Indifference sebagai lanjutan. Lagu ini adalah salah satu lagu paling kalem dari Pearl Jam, sehingga penonton larut dalam suasana dengan bernyanyi bersama. Terutama pada bagian:
I swallowed poison until I grow immune I will scream my lungs out, till it fills this roomRuang sempit Classic Rock memang seperti penuh dengan ceceran paru-paru audiens yang meneriakkan bait tersebut sekuat tenaga.
Selepas lagu itu, suasana
mosh-pit menghangat ketika intro
Porch membahana. "Riot act" akhirnya pecah mengiringi lagu dari album perdana Pearl Jam.
Slam dance menjadi pemandangan umum di bibir
stage yang mungkin hanya menyisakan lebar semeter bagi pengunjung yang ingin "aman". Umumnya mereka beringsut ke tepi panggung. Junkhead terus memanaskan
mosh-pit ketika
Why Go mengikuti Porch. Gitaris Junkhead bermain sangat prima untuk menghantarkan melodi ala Mike McCready, bahkan sampai ke karakteristik
sound-nya! Mungkin karena terlalu prima juga, sehingga jelang lagu berikut, ampli gitarnya
feedback dan terpaksa direparasi sejenak. Tanpa memberi kesempatan
crowd beristirahat, Junkhead lanjut dengan sesi minus lead dalam lagu
State of Love and Trust yang dibantu oleh
Yana "Marvell". Di pertengahan lagu,
lead kembali muncul untuk mengiringi koor "nanananana" yang menjadi trademark nomor dari
soundtrack film Single ini.
Yana "Marvell" dan Junkhead, menutup sesi Junkhead dan membuka sesi Jam-Session. (photo: AWANG) Di tengah request untuk terus melanjutkan setlist, Junkhead memberi bocoran bahwa lagu berikut merupakan lagu terakhir. Meski disambut dengan teriakan kecewa audiens, tetapi intro
Alive mengalun dan membuai penonton untuk sejenak lupa bahwa
show itu akan segera berakhir. Koor terjadi kembali layaknya konser Pearl Jam betulan dengan teriakan dan kepalan di riff akhir Alive. Sayang memang, waktu yang dibatasi membuat penonton yang notabene tengah berada di klimaks mood menjadi kecewa. Guna mengobati kekecewaan tersebut,
jam session diadakan. Drummer dan bassist Junkhead tetap di stage, sementara lead gitar dipegang oleh
Olit, personel band Alien Sick (Jakarta) sementara vokal dirangkap oleh Andra dan Yana yang juga membantu ritem.
Betterman mengalun menuntun pada koor audiens. Usai berdendang lagu gubahan Vedder sebelum di Pearl Jam tersebut,
request penjaga tiket akhirnya dikabulkan. Lagu yang bercerita tentang bunuh diri remaja bernama
Jeremy segera terlantun menutup
show singkat bertajuk Pearl Jam Nite 3. Lantun bersama lagu yang menjadi videoklip perdana Pearl Jam tersebut menjadi
resume dimana show yang penuh kebersamaan dan kekeluargaan ini berakhir.
Total durasi sekitar 2 jam
sharp! Sayang memang, tetapi itu juga sudah maksimal dengan adanya pembatalan
venue awal dan sebagainya. Secara positif, justru jika acara dibawakan di Hyatt,
intimacy dari show malah tidak akan terjadi. Dan dengan
venue yang kecil, 80-an pengunjung yang hadir akan merasa familiar dan bisa lepas ketika mereka ber-
slam dance ria di atas
moshpit yang sekaligus merupakan ruang satu-satunya tersisa dari Classic Rock. Seperti biasa, di akhir acara komunitas kecil ini selalu berkumpul sejenak sambil menguapkan pertanyaan yang klise: acara selanjutnya dimana dan kapan?
Yang jelas, dua jawaban terbuka sudah.
Satu, jika di Bandung, dengan preparasi yang lebih baik tentu akan menjadi lebih "meriah" mengingat hegemoni
Seattle Sound masih lekat di kota Kembang tersebut. Dan
dua, melihat antusiasme audiens, Pearl Jam Nite 4
tentu akan diadakan kembali! Atau justru akan disela oleh konser dari
the real deal,
Pearl Jam?
Well, keep our fingers crossed, karena kompilasi video dari trilogi Pearl Jam Nite tengah meluncur ke
TenClub Management Headquarter di Seattle sana. Bukan tidak mungkin, atmosfer kerinduan terhadap survivor satu-satunya dari
scene yang beken dengan nama grunge ini akan menjadi dorongan kuat bagi manajemen Pearl Jam untuk konser di Indonesia. Geliatnya sudah ditunjukkan
barudak Bandung, menimpali sukses dua show sebelumnya di Jakarta.
Zu, Dua Sisi dan Junkhead rasanya menjadi mediator yang pas bagi semua yang menyaksikan malam itu bahwa yang berkumpul di Classic Rock,
2 Juni 2007 adalah sekumpulan maniak. Dalam arti positif, mereka membawa energi positif untuk menarik kuintet asal Seattle yang mereka gilai, Pearl Jam.
It's such a positive effort.
Brosur design by Windo. For more photos, please visit: Ade Ridwan and Awang website.