Selai Mutiara, blog buat para jammers Indonesia yang dalam doa selalu terselip pertanyaan: 'Ya Tuhan, kapan ya pearl jam konser di Indonesia?' atau bertanya pada diri sendiri 'kapan ya bisa ke seattle nonton konsernya Pearl Jam?' Lewat blog ini, jammer bisa posting komentar, tulisan foto atau link buat donlot video atau mp3 pearl jam gratisan. Biar tambah seru, gabung juga di milisnya jammer indonesia: tenclub-indonesia@yahoogroups.com VIVA LA PEARL JAM
Kamis, Juni 28, 2007
Video Pearl Jam live at Grand Rapids 2006 (VCD)
05/19/06 - Van Andel Arena, Grand Rapids, MI, USA
Ed pre-set: Dead Man, Can't Explain (not avail in video)
set: Elderly Woman..., Given To Fly, World Wide Suicide, Life Wasted, Severed Hand, Sad, Marker in the Sand, Red Mosquito, Even Flow, Love Boat Captain, Corduroy, Daughter/(Blitzkrieg Bop)/(I Believe In Miracles), Army Reserve, Green Disease, Why Go, Inside Job, Rearviewmirror
first encore: Sleight of Hand, Off He Goes, Around the Bend, Parting Ways, Hard To Imagine, Crazy Mary, Alive
second encore: Do The Evolution, Comatose, Satan's Bed, Leatherman, Blood, Baba O'Riley, Yellow Ledbetter
BEWARE, bukan Pro Shot, tp audience shot dgn 2-3 camera mix + di mix dengan audio dr official bootleg.
Total file hampir sekitar 2 GB, semuanya ngabisin 3 disk. Download dulu semua file ke dalam hardisk baru kemudian di extract dengan Winrar.
Unduh semua file dalam folder rapidshare berikut:
pearljam grandrapids 2006 VCD (3disk)
Enjoy!
update
Semoga dengan sering di update, blog ini akan semakin hidup.
Viva la Jam!
Senin, Juni 11, 2007
Chris Cornell Concert Report
+++
Hi All,
Kamis, 31 Mei lalu gw nyempatin nonton Chris Cornell yang mentas di sebuah club kecil dengan kapasitas sekitar 400 orang di kota Nashville. Gw kudu antri selama 2 jam untuk tiket (meski dihibur Chris yang sedang check sound), dan dapet seat di pinggir depan stage. 30 menit kemudian, hall udah penuh sesak yang memicu turunnya larangan "no smoking" akibat banyaknya asap rokok sekaligus bikin ruangannya sedikit panas.
Setlistnya bener-bener freakin' awesome! Dari Soundgarden, Temple of the Dog, Audioslave, sampai Chris Cornell solo album!! Show dibuka dengan "Spoonman" yang langsung disambut audience dengan rangkaian moshing. Selepas lagu legendaris Soundgarden tersebut, Chris menyambungkannya dengan 'Garden lain, "Outshined". Aarrgh...situasi chaos memicu gw kudu pegangan pembatas besi supaya ngga pindah posisi.Big surprise, "Hungerstrike" muncul! Dari intronya aja lagu itu udah bikin merinding... Selepas itu disambung "Say Hello to Heaven", lagu lain dari kedahsyatan boys from Temple of the Dog, band yang dibentuk Chris bersama member Pearl Jam untuk mengenang Andy Wood, vokalis Mother Love Bone yang meninggal karena overdosis. So, meluncurlah "Can't Change Me" dan juga the sweet "Call Me a Dog" (Chris sempet ngomong kalo lagu itu "dedicated for my Andy") dengan format akustik.

Lagu baru Chris yang disiapin untuk album solo mendatangnya, "Billy Jean" was so greaat! Lagu itu adalah cover song dari lagu Michael Jackson. Jacko wacko kudu dengerin lagu itu dibawain Chris sepertinya. Berturut nomor Soundgarden lain "Jesus Christ Pose" dan "Rusty Cage" sempet bikin hall-nya mau rubuh. Apalagi buat gw yang notabene perawakan Asia ditengah bule-bule. Haha...
Encore pertama konser dibuka dengan "My Wave", kemudian "Black Hole Sun" yang always hit me in the head so hard. Black Hole jadi lagu penutup konser yang overall performance-nya luar biasa. Live sekitar dua setengah jam plus encore break selama 10 menit memuaskan audience dengan deretan lagu klasik Soundgarden, Audioslave, Temple of the Dog dan album solonya.
Sebetulnya, konser tersebut sempet direncanakan terus berlangsung. Tetapi entah kenapa konser harus di stop oleh polisi. Sayang, padahal audience belum puas menonton Chris dan band member-nya yang nggak kalah cool, meski kudu bermandi keringat akibat ruangan yang ngga terlalu besar. It's an amazing concert, meski venue-nya kecil, tapi justru bikin Chris deket sama fans. Di sisi lain, lapak merchandise-nya juga cuman 1 meja, dengan kaos-kaos digelar begitu saja. Belom sempet beli buat semua yang nitip merchandise, soalnya sehabis gate dibuka langsung maju ke depan buat nonton Chris check sound. Selepas konser, kaos-kaos yang sisa cuman ukuran small size aja. So, sorry buat semuanya!
Overall, it's so good concert and so tiring...
Salam,
Danny
Setlist:
Spoonman
Outshined
Original Fire
What You Are
Show Me How to Live
No Such Thing
You Know My Name
Hungerstrike
Say Hello to Heaven
Fell on Black Days
Rusty Cage
Sunshower
Can't Change Me (akustik)
I Am the Highway (akustik)
Call Me a Dog (akustik)
Doesn't Remind Me (akustik)
Cochise
Your Soul Today
Billy Jean
Like a Stone
Loud Love
Jesus Christ Pose
First encore:
My Wave
Seasons
Black Hole Sun
+++
Foto-foto dari dokumentasi pribadi Danny. Setlist sedikit disesuaikan (warna merah) dengan catatan fans lain di forum Audioslave.
Rabu, Juni 06, 2007
Great Gig for Maniacs

Apa yang disuguhkan dari sebuah konser tribute? Yang paling utama adalah untuk "menyalurkan" hasrat sembari berharap band yang di-tribute mengadakan actual show. Dan seberapa besar hasrat itu bisa dilihat dari antusiasme penampil dan penonton yang terangkum dalam satu kata: maniak!
SELEPAS penyelenggaraan Pearl Jam Nite 2, Desember tahun lalu, muncul banyak pertanyaan mengenai event ketiga. Biasanya seputar konsep acara yang dalam dua kali penyelenggaraan hampir dalam konteks yang sama: 5 atau lebih band membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Banyak kritik yang masuk ke panitia pada waktu itu, bahwa dengan banyaknya lineup, maka mood penonton yang sudah terlanjur "tune" dengan salah satu band bisa menurun ketika band berikut kurang mampu menampilkan performa terbaiknya.
Untuk penyelenggaraan ketiga, cukup tiga band yang didaulat membawakan lagu-lagu sakral dari Pearl Jam. Dua band asal kota kembang, Bandung - yang menjadi kota tuan rumah acara - , Zu dan Junkhead mendapat mandat. Ditambah dengan alumnus hajatan pertama di 2005, Dua Sisi, yang mengisi jatah seleksi panitia. Zu adalah band independen asal Bandung yang tengah bergairah meniti karir di dunia musik Indonesia selepas launching mini album mereka. Sementara Junkhead melegenda di kancah lokal sebagai pengibar bendera "Seattle Sound", meski vakum 2 tahun dan reuni khusus untuk acara Pearl Jam Nite 3. Dua Sisi sendiri masih bergulat dengan demo album mereka, selepas mini album mereka launching di akhir 2005 lalu.
So, the set is up and the event is running. Sebelum hari H, panitia menyebar brosur tentang acara ini ke penjuru Bandung dan lewat bombardir internet. Sayang, publikasi yang sudah berjalan bagus justru menjadi bumerang. Venue awal, JB's Fun Bar, Hyatt Bandung tiba-tiba membatalkan kesepakatan menjadi tuan rumah 3 hari menjelang event! Terlanjur sebar, panitia membuat arrangement mendadak dengan Classic Rock, sebuah bar di bilangan Braga Bandung. Pemberitahuan hanya disusulkan melalui notifikasi sms dan imel dua hari menjelang. Sangat terlambat, apalagi dari pengamatan lebih dari separuh brosur yang disebar di distro-distro dan spot komuniti lain di Bandung ludes. Logisnya, harapan akan membludaknya antusiasme barudak ke event menjadi makin jauh, dan yang paling mungkin adalah membuat acara yang berkenan bagi siapapun yang membaca perubahan venue dan datang ke Classic Rock.
Venue Classic Rock, sempit tetapi malah menjadi keuntungan akibat hilangnya potensial audiens yang tidak tahu perubahan venue. (photo: AWANG)Beruntung, Classic Rock adalah sebuah bar yang tidak terlalu besar. Di bangunan yang didominasi imej dan memorabilia musisi almarhum Jim Morisson dan Jimi Hendrix ini hanya mempunya space sekitar 6 x 3 meter persegi untuk stage ditengah flow ruang menuju bar dan lantai atasnya. Di depan stage, terpisah jalan selebar satu setengah meter, berderet bangku pub yang menempel ke dinding. So small, yet so intimate. Jarak panggung dengan audiens sangat dekat, membawa ke show "personal". Mirip dengan pub-pub di Seattle yang menjadi setting lahirnya gelombang musik alternatif di akhir 80-an.
Pukul 19.30, massa mulai berdatangan. Rata-rata adalah wajah-wajah familiar dari komunitas PJ.Id yang melek dengan perubahan venue. Usut punya usut, pihak JB's Fun ternyata menolak mem-forward (atau sekedar menempel informasi perubahan venue) calon audiens yang terlanjur ke sana. But the show must go on. Tepat di angka 8, jam berdentang seiring dengan gemuruh audiens menyambut Zu membuka acara dengan deru bas dan ritem yang mengiringi lagu Animal. Ini adalah kali pertama mereka membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Jadi, vokalis Zu harus membagi konsentrasinya dengan bermain bass sekaligus sesekali melirik catatan lirik lagu yang terpampang di depannya. Amazingly, so smooth dan mampu menciptakan euforia kecil di kalangan audiens yang mulai beranjak ke angka 30-an kepala. Lagu berikut, Rearviewmirror dan Wishlist mengawal ke sebuah intro yang familiar dengan audiens...
World Wide Suicide dari album terbaru dinyanyikan dan memicu apresiasi penonton. Di hajatan PJ Nite 2 lalu, lagu ini jadi satu-satunya wakil "Avocado" dan dibawakan di awal acara. Tetapi di sini, penonton jauh lebih aware untuk menyanyikan bait demi bait lagu yang mengecam kebijakan George W. Bush tersebut bersama vokalis Zu.
It's the same everyday in a hell man-made What can be saved, and who will be left to hold her? The whole world...world over. It's a world wide suicide
Bunuh diri massal itu akhirnya ditutup dengan riff lagu Even Flow. Nomor klasik dari album epik Ten yang menjadi debut awal Pearl Jam di blantika musik internasional. Applaus layak diberikan kepada Zu atas pilihan setlist unik mereka (2 album Versus, dan masing-masing satu Yield, Ten dan Pearl Jam). Mereka menandai debut membawakan Pearl Jam dengan apik dan harapan kian membumbung menyambut band kedua, Dua Sisi.
Dua Sisi mempersiapkan pertunjukan mereka dengan setting serius. Andra, vokalis dan gitaris band asal Jakarta ini membuka dengan dialog ke audiens sembari keyboard dipersiapkan. Keyboard menjadi instrumen wajib Pearl Jam akhir-akhir ini setelah "klik" antara Kenneth "Boom" Gaspar dan Vedder cs. Dua album terakhir memiliki warna dominan di instrumen kembangan piano ini. Hal itu memicu asumsi penonton jika Dua Sisi mungkin akan memilih setlist yang banyak memuat lagu dari dua album terakhir.
Pendapat itu ada benarnya ketika 3 nomer sekaligus, yang membuka show mereka, dicomot dari dua album terakhir. Severed Hand membuka dengan efek suara kibor yang disahut oleh deru drum dan ritem gitar. Lagu kedua adalah Life Wasted yang notabene merupakan nomor pembuka album terakhir Pearl Jam (rilis tahun 2006 lalu). Lagu itu disusul dengan Save You yang merupakan gacoan dari album Riot Act (rilis 2003). Setelah berselang balada Black yang dinyanyikan secara koor oleh audiens (mungkin sudah mulai mencapai 50-an pengunjung), kibor kembali beraksi dengan "rarity" Army Reserves. Lagu ini sontak mendapatkan apresiasi lebih dari die-hard fans. Bisa dihitung jari pengunjung yang turut bernyanyi. Setelah "terasing" dengan balada keluarga prajurit Irak tersebut, getaran intro dari lagu pembuka album Yield bergaung di ruangan yang relatif kecil. Brain of J turun dengan power full yang dibawakan Andra cs. sambil terselip riff reggae di interlude lagu.
and by name the name they gave me the name i'm letting go...
Deru drum segera menimpali teriakan Andra. Drummer Dua Sisi, Iit, bermain sangat prima dengan memberi energi dibalik ketukan-ketukannya. Hal itu kentara ketika membuka lagu Insignificance dengan deret riff drum sebagai wakil dari album keenam, Binaural (rilis 2000). Selain di Brain of J, Iit memberi ketukan-ketukan ala Jack Irons di lagu-lagu yang justru mulai identik dengan Matt Cameron. I Got Shit menutup sesi Dua Sisi, meski mendapatkan request untuk membawakan Jeremy, tetapi patuh pada rundown panitia yang memang hanya dibatasi sampai jam 22.00 sebelum band reguler Classic Rock tampil.
Headliner dipersiapkan di akhir acara. Junkhead yang tenar di Bandung dengan imej Seattle Sound-nya membuka dengan Grievance. Disusul dengan Breath yang ternyata mendapatkan banyak respon positif dari penonton. Lagu-lagu era lama memang selalu melekat di hati pecinta rock pada umumnya, sehingga lagu seperti Breath yang berada di kompilasi legendaris OST Single tersebut sangat populer. Selepas Breath yang menuntut oktaf tinggi, Junkhead reses sejenak untuk mengantar Indifference sebagai lanjutan. Lagu ini adalah salah satu lagu paling kalem dari Pearl Jam, sehingga penonton larut dalam suasana dengan bernyanyi bersama. Terutama pada bagian:
I swallowed poison until I grow immune I will scream my lungs out, till it fills this room
Ruang sempit Classic Rock memang seperti penuh dengan ceceran paru-paru audiens yang meneriakkan bait tersebut sekuat tenaga.
Selepas lagu itu, suasana mosh-pit menghangat ketika intro Porch membahana. "Riot act" akhirnya pecah mengiringi lagu dari album perdana Pearl Jam. Slam dance menjadi pemandangan umum di bibir stage yang mungkin hanya menyisakan lebar semeter bagi pengunjung yang ingin "aman". Umumnya mereka beringsut ke tepi panggung. Junkhead terus memanaskan mosh-pit ketika Why Go mengikuti Porch. Gitaris Junkhead bermain sangat prima untuk menghantarkan melodi ala Mike McCready, bahkan sampai ke karakteristik sound-nya! Mungkin karena terlalu prima juga, sehingga jelang lagu berikut, ampli gitarnya feedback dan terpaksa direparasi sejenak. Tanpa memberi kesempatan crowd beristirahat, Junkhead lanjut dengan sesi minus lead dalam lagu State of Love and Trust yang dibantu oleh Yana "Marvell". Di pertengahan lagu, lead kembali muncul untuk mengiringi koor "nanananana" yang menjadi trademark nomor dari soundtrack film Single ini.
Di tengah request untuk terus melanjutkan setlist, Junkhead memberi bocoran bahwa lagu berikut merupakan lagu terakhir. Meski disambut dengan teriakan kecewa audiens, tetapi intro Alive mengalun dan membuai penonton untuk sejenak lupa bahwa show itu akan segera berakhir. Koor terjadi kembali layaknya konser Pearl Jam betulan dengan teriakan dan kepalan di riff akhir Alive. Sayang memang, waktu yang dibatasi membuat penonton yang notabene tengah berada di klimaks mood menjadi kecewa. Guna mengobati kekecewaan tersebut, jam session diadakan. Drummer dan bassist Junkhead tetap di stage, sementara lead gitar dipegang oleh Olit, personel band Alien Sick (Jakarta) sementara vokal dirangkap oleh Andra dan Yana yang juga membantu ritem. Betterman mengalun menuntun pada koor audiens. Usai berdendang lagu gubahan Vedder sebelum di Pearl Jam tersebut, request penjaga tiket akhirnya dikabulkan. Lagu yang bercerita tentang bunuh diri remaja bernama Jeremy segera terlantun menutup show singkat bertajuk Pearl Jam Nite 3. Lantun bersama lagu yang menjadi videoklip perdana Pearl Jam tersebut menjadi resume dimana show yang penuh kebersamaan dan kekeluargaan ini berakhir.
Total durasi sekitar 2 jam sharp! Sayang memang, tetapi itu juga sudah maksimal dengan adanya pembatalan venue awal dan sebagainya. Secara positif, justru jika acara dibawakan di Hyatt, intimacy dari show malah tidak akan terjadi. Dan dengan venue yang kecil, 80-an pengunjung yang hadir akan merasa familiar dan bisa lepas ketika mereka ber-slam dance ria di atas moshpit yang sekaligus merupakan ruang satu-satunya tersisa dari Classic Rock. Seperti biasa, di akhir acara komunitas kecil ini selalu berkumpul sejenak sambil menguapkan pertanyaan yang klise: acara selanjutnya dimana dan kapan?
Yang jelas, dua jawaban terbuka sudah. Satu, jika di Bandung, dengan preparasi yang lebih baik tentu akan menjadi lebih "meriah" mengingat hegemoni Seattle Sound masih lekat di kota Kembang tersebut. Dan dua, melihat antusiasme audiens, Pearl Jam Nite 4 tentu akan diadakan kembali! Atau justru akan disela oleh konser dari the real deal, Pearl Jam? Well, keep our fingers crossed, karena kompilasi video dari trilogi Pearl Jam Nite tengah meluncur ke TenClub Management Headquarter di Seattle sana. Bukan tidak mungkin, atmosfer kerinduan terhadap survivor satu-satunya dari scene yang beken dengan nama grunge ini akan menjadi dorongan kuat bagi manajemen Pearl Jam untuk konser di Indonesia. Geliatnya sudah ditunjukkan barudak Bandung, menimpali sukses dua show sebelumnya di Jakarta.
Zu, Dua Sisi dan Junkhead rasanya menjadi mediator yang pas bagi semua yang menyaksikan malam itu bahwa yang berkumpul di Classic Rock, 2 Juni 2007 adalah sekumpulan maniak. Dalam arti positif, mereka membawa energi positif untuk menarik kuintet asal Seattle yang mereka gilai, Pearl Jam. It's such a positive effort.
Brosur design by Windo. For more photos, please visit: Ade Ridwan and Awang website.
Jumat, Desember 15, 2006
Pearl Jam Nite 2 - 1 Desember 2006
The waiting drove us mad...
Lebih dari setahun yang lalu, hajatan malam tribute untuk band Seattle yang merupakan survivor musik rock 90-an, Pearl Jam, digelar disebuah kafe di bilangan Kemang Jakarta Selatan. Acara yang mungkin merupakan acara pertama bertajuk Pearl Jam Nite (PJN) itu mengusung misi untuk mendatangkan the real deal-nya, yaitu memanggungkan band yang terdiri dari Eddie Vedder, Mike McCready, Stone Gossard, Jeff Ament dan Matt Cameron tersebut ke Indonesia. Berangkat dari sebuah komunitas online (Pearl Jam Indonesia: tenclub_indonesia@yahoogroups.com), keinginan untuk makin menyatukan suara penggemar Pearl Jam tersebut makin meluas dengan adanya acara PJN tersebut. Terbukti dengan melesatnya sebuah petisi online dengan ratusan pengisi yang meminta Pearl Jam meluangkan waktu mereka untuk manggung di Indonesia.
Satu tahun berlalu, belum ada tanda-tanda jika band yang Mei 2006 lalu mengeluarkan album kedelapan tersebut akan mampir ke Indonesia meski di jadwal tur mereka tertera nama kota yang berjarak seseberangan laut dengan pulau Flores, yaitu di Darwin, ujung utara Australia. Didorong rasa penasaran menunggu, maka muncul insiatif untuk kembali memutar kembali rekaman 4 September 2005 guna menggelar hajatan Pearl Jam Nite 2. Kali ini dalam rangka rolling acara Forever Grunge yang rutin digelar oleh komunitas Pearl Jam Indonesia (PJ.Id) sejak launching album kompilasi mereka, yang berjudul "Not For You", Juli 2006 lalu. Maka dipanggungkanlah Pearl Jam Nite 2, sebagai seri ketiga rangkaian Forever Grunge, di Front Row Sports Grill Senayan pada tanggal 1 Desember 2006 lalu.
It's finally here and we're all mess...
Konsep acara direncanakan sebagai runut balik perjalanan Pearl Jam, mulai dari kesuksesan album baru mereka yang critically-acclaimed oleh media, setelah selama puluhan tahun menjadi musuh yang diperangi Vedder cs. Band Footsteps mengawali repertoir runut balik dengan melantunkan "World Wide Suicide" setelah membuka show dengan nomor klasik Neil Young (identik juga dengan Pearl Jam dengan show legendaris Neil dan PJ di MTV VMA 1992) berjudul "Rockin in the Free World". Rangkaian lagu yang berasal dari album kompilasi yang keluar tahun 2004, Lost Dogs, mengalun dari pentas kecil di sudut Front Row. Di antaranya adalah "Yellowledbetter" yang dicatat sebagai nomor klasik PJ karena kentalnya pengaruh dewa blues-rock asal Seattle, Jimi Hendrix, dalam barisan riff yang ditulis Mike McCready. Donny, gitaris Footsteps sejenak keluar dari alam ragawi dengan balutan melodi blues-nya mengiringi berakhirnya setlist band tersebut dan membuka rangkaian PJN 2.
It's a riot act...
Menurut pakem yang ditulis, band kedua akan membawakan lagu-lagu dari album Pearl Jam yang dikeluarkan pada tahun 2003, Riot Act. Simplementhol terdaftar pada itinerari acara untuk menghajar crowd dengan "Get Right", "Save You", "Half Full" dan setlist dari Lost Dogs. Akan tetapi, karena berhalangan maka Freasbe yang sebelumnya terkena jatah band pembuka dengan hanya 3 lagu "naik pangkat" menjadi band headliner dengan ekstensi 3 buah lagu adisional. Konsep runut balik sedikit "berputar" ketika Freasbe yang dimotori Jaiz pada vokal membawakan random setlist dari album Live on Two Legs (1999) yang dibuka dengan "Hail Hail". Dua buah nomor keren dari album Yield (1998) menyusul dengan membuncahnya suara Jaiz, yang notabene merupakan adik kandung Ipang BIP, dalam lagu "MFC" dan "In Hiding". Setlist kembali berputar maju menyusul "I Am Mine" dari album Riot Act yang dilantunkan sebagai kompensasi absennya Simplementhol. Kemudian lagu 'Do the Evolution" yang menyulut massa untuk bergerak ke bibir panggung menjadi awal dari berubahnya party yang manis menjadi konser rock yang liar seperti era-era 90-an awal ketika Pearl Jam bersama Soundgarden, Alice in Chains, Mudhoney dan Nirvana merajai mainstream rock di Amerika Serikat dan dunia.
Mesiu yang disulut Freasbe dengan "Evolution" segera disambut oleh massa penonton yang kemudian menciptakan mosh pit menyambut "Even Flow" dan "Porch" dalam repertoir berikut. Tak puas dengan lagu-lagu tersebut, penonton menuntut encore yang ditimpali "Rearviewmirror" sebagai lagu pamungkas Freasbe, band yang sejatinya sudah bubar bertahun-tahun yang lalu tersebut.
We got memories, and got sh*t...
Lord Mahila dijadwalkan untuk mengisi setlist lanjutan dengan membawa repertoir dari album Binaural (2000) dan Yield. Tetapi karena mereka menjanjikan suprise act yang baru bisa dilakukan malam harinya, jadilah Got ID mengisi setlist lebih awal dengan membawakan lagu-lagu dari album No Code (1996) dan Vitalogy (1994). Membuka dengan "In My Tree", sebuah nomer kontemplatif yang ditulis Vedder, Got ID menurunkan tempo yang telah dipanaskan Freasbe sebelumnya. Sayang, kondisi vokalis mereka, Arief, yang kurang fit membuat beberapa nomor terasa "dingin". Padahal mereka membawakan lagu-lagu wajib fans Pearl Jam semacam "Not For You" dan "Corduroy". Beruntung lagu punk-hardcorish Pearl Jam seperti "Spin the Black Circle" serta "Lukin" tetap berhasil menjaga bibir panggung tetap hangat dengan kembali membawa massa untuk ber-slam dance dan moshing. Bahkan aksi Ridha, gitaris Got ID, membawa atmosfer yang makin menembus waktu ke era 90-an ketika dia bercrowd-surf sambil memainkan melodi lagu "I Got Sh*t". Dan aksi Ridha itu juga sekaligus menjadi klimaks penutup band beranggotakan 5 orang tersebut.
Tattooing everyone...
Band "dadakan" Stick Figure yang beranggotakan musisi-musisi dari band grunge Bolong, Alien Sick, The Others dan Stigmata mengisi panggung dan menyambut dengan "Black", nomor balada dari album perdana Pearl Jam, Ten (1991). Penonton duduk memenuhi bibir panggung dan hanyut dalam melodi yang diciptakan duo gitaris, Egy dan Olit membius dalam atmosfer hitam sesuai dengan balada "gone-wrong relatinship" paling terkenal dalam katalog Pearl Jam. Membuka lagu kedua adalah "Go" dengan hentakan drum Ader dan beat rimatis bass Joshua membawa angin segar penonton untuk kembali membantai moshpit. Suara Irfan, vokalis Stick Figure, dieksploitasi dalam lagu berikut yang merupakan simbol perlawanan Vedder terhadap media: "...spin me round, roll me over. Fuckin' circuuuuus!". "Blood" dari album kedua (Vs - 1993) mengaliri adrenalin penonton untuk terus bergerak mengiringi irama hardcore dari geru instrumen yang keluar dari ampli di seputaran panggung.
Pada susunan berikutnya, mulai terjadi bongkar pasang personel band jam-session ini. Ditandai dengan masuknya Erwin, gitaris band papan atas Cokelat, menggiring penonton ke sebuah intro paling terkenal dalam sejarah Pearl Jam yang dulu ditulis Stone Gossard, gitaris PJ, sebagai "Dollar Short". Lagu yang kemudian dikenal berjudul "Alive" tersebut menjadi rangkaian lagu klasik yang dibawakan setelah sebelumnya "Jeremy" mengakhiri kiprah Egy di sisi gitar Stick Figure. Erwin mendapat sambutan dari penonton dengan mengangkatnya ke crowd-surf sambil meneruskan melodi gitar Alive yang konon "dicuri" McCready dari Stevie Ray Vaughan. Menyusul Erwin, Dendi dari band Kunci menggantikan Irfan untuk menghajar "Animal". Kunci dijadwalkan tampil sebagai headliner. Tetapi karena berhalangan, maka Dendi membayarnya dengan melebur bersama Stick Figure membesut lagu-lagu PJ. Penonton semakin liar meski malam semakin larut.
A human being that was given to...
Lord Mahila tampil sebagai band berikut yang mengisi. Dibuka dengan "Light Years", Lord Mahila yang dimotori eks bassist ALV band, Alex, mendinginkan Front Row degan repertoir ballad-nya. "Off the Girl" menyusul kemudian, dengan komposisi harmoni bass dan gitar tunggal. Nostalgia album keenam, Binaural, berlanjut dengan "Evacuation", yang memaksa vokalis Mahila sampai ke oktaf tertinggi meneriakkan "...evacuaaaatioooooon". Amazingly, dia bisa bersaing dengan Vedder mencapai titik tersebut. "Faithful" menutup sesi "standar" menyusul ketidaksabaran penonton untuk pengen segera masuk ke bibir panggung. Aksi kejutan dimulai dengan Alex yang memanggil eks personel ALV lain, yaitu Nito (gitar) dan Nugie. Penonton segera memenuhi area moshpit, ketika Nugie mulai melancarkan jurus-jurus showmanship-nya dengan provokasi kaitan lagu PJ dengan Led Zeppelin. Intro "Given to Fly" mengalun yang menuntun ke meriahnya sambutan penonton. Riff yang mirip dengan "Going to California"-nya Plant dkk ini disambut dengan koor membahana dari puluhan mulut yang dipimpin Nugie dari atas ampli. Tidak mau kehilangan momen nostalgia, pada klimaks lagu Nugie melemparkan dirinya ke penonton yang disambut dengan arakan crowd surfing ke seputaran mosh pit, sambil tetap melantunkan reffrain "...arms wide open with the sea as his floor...oh now...now...hoooooo". Nugie pun terbang di atas puluhan tangan yang membawanya ke angkasa. Kemudian dia kembali lagi untuk memprovokasi penonton ber-slam dance di lagu "Brain of J". Mungkin disaat inilah momen berubah seratus persen menjadi sharing-gig, ketimbang sebuah show. Terjadi interaksi luar biasa antara performer dan penonton yang melebur menjadi satu berupa kerinduan terhadap momen yang dibawa Pearl Jam selama rentang waktu 15 tahun lebih ini.
Hold on to the thrill...
Sekitar satu dekade yang lalu, di Indonesia tengah mewabah virus musik alternatif 90-an yang juga digawangi oleh Pearl Jam. Beberapa band bermunculan ke jalur mainstream yang lekat dengan identitas kultur generasi X tersebut. Dua di antaranya adalah Nugie dan ALV Band serta Plastik yang memunculkan Ipang sebagai talenta berkarakter suara "vedderesque" (jauh sebelum Scott Stapp dan The Calling).
Nostalgia masa tersebut coba dimunculkan di Front Row, 1 Desember 2006 malam lalu ketika sesi terakhir dari gelaran Pearl Jam Nite 2 menampilkan free jam session. Sejumlah musisi lokal papan atas bergabung untuk merayakan masa lalu yang turut menjadi bagian dari referensi musikal mereka. Nugie, Alex dan Nito dari ALV, Erwin dari Cokelat, Adhit dari Element, Dendi vokalis band Kunci, Chandra alias Che dari band Cupumanik, serta Ipang, mantan ikon Plastik yang kini menjadi frontman BIP. Khusus untuk Che dan Ipang, ini adalah kali kedua penampilan mereka di gelaran Pearl Jam Nite, setelah pada PJN pertama di Kemang mereka turut menjadi bintang tamu.
Can't find a betterband...
Jam session pertama mengangkat kembali lagu klasik 90-an yang pernah booming gara-gara video Mark Pellington untuk lagu yang turut memenangkan Pearl Jam di kancah MTV Video Music Award 92. Lagu berjudul "Jeremy" yang bercerita tentang alienasi keluarga dan sosial ini dibawakan secara serempak oleh Ipang, Che serta Dendi dengan iringan Erwin dan Olit (gitaris Alien Sick/Stick Figure) serta Alex (bassis Lord Mahila/eks ALV) dan Ader (drummer Stigmata). Berlanjut ke lagu paling populer dari Pearl Jam, "Betterman", yang justru ditulis Vedder jauh sebelum dia bergabung dengan band yang sebelumnya bernama Mookie Blaylock tersebut. Lagu kedua ini disambut dengan koor penonton yang sepertinya sudah mengendap di bibir panggung, menyisakan spot-spot kosong dari penjuru Front Row. Konsepnya menjadi murni share antara penonton dan performer karena saling mengisi, mengingatkan bait-bait yang lupa dan memberi tambahan energi oktaf untuk menambah kesenangan malam itu.
Setelah lagu kedua, Che mengambil alih jam-session dengan melantunkan lagu yang telah muncul sebelumnya oleh Freasbe, yaitu "Rearviewmirror". Energi vokal Che yang besar memang cocok untuk lagu-lagu Pearl Jam dari album kedua yang memang banyak didominasi tinggi vokal Ed Vedder. Di PJN 1 lalu, Che juga banyak mengambil setlist dari album kedua Pearl Jam sampai ke model "Rats" dan "Glorified G" yang notabene sudah sangat jarang dibawakan Vedder sendiri saat ini.
I don't mind stealing bread for a show like this...
Karena konsepnya jam-session, maka performer harus siap dengan request-request yang muncul dari penonton. "Hungerstrike"-pun berkumandang...
Lagu yang sebetulnya bukan lagu Pearl Jam tersebut termasuk "rarity", karena secara awam jarang yang tahu tentang lagu dari band Temple of the Dog tersebut. Lagu kolaborasi personel Pearl Jam dan Soundgarden tersebut memunculkan duet vokal Vedder dan Chris Cornell dengan suara satu-duanya yang menjadi signature. Nito (gitaris ALV) menunjukkan kapasitasnya sebagai penggemar Pearl Jam dengan mengambil alih posisi gitar dari Erwin dan segera melantunkan lick intro Hungerstrike. Arief, vokalis Got ID, juga siap mem-backup Che untuk berduet dalam lagu dahsyat tersebut. Penonton juga siap mengambil alih nada-nada oktaf tinggi yang dimunculkan Cornell dalam versi aslinya.
Can you see them? Round the porch, and they don't wave...
Dua lagu selanjutnya menjadi penutup rangkaian repertoir PJN 2. Adhit, gitaris band Element menjadi gitaris kedua menggantikan Olit untuk berduet dengan Nito melantunkan riff legendaris lagu "State of Love and Trust" yang diambil dari soundtrack film Singles. Dan seperti halnya konser Pearl Jam, lagu "Yellowledbetter" menjadi penutup rangkaian konser yang membawa kembali mesin waktu ke masa kini. Nito menutup rangkaian konser antar-fans Pearl Jam tersebut dengan sayatan sedih pada gitarnya yang menyadarkan penonton bahwa acara usai sudah. Wajah-wajah lelah dan puas karena bisa share dengan sesama fans Pearl Jam bermunculan. Tidak terbatas oleh status selebritas pada performer, karena yang ada di situ semuanya adalah mereka yang menggemari lagu-lagu dari band asal Seattle tersebut. Membawa kembali ke alam memori masa muda bagi sebagai penonton yang berusia late-20 atau early 30. Masa di mana Pearl Jam bersama band-band 90-an merajai kancah mainstream musik rock. Sementara satu dekade berselang, Pearl Jam membuktikan bahwa tribute semacam ini sangat layak mereka dapatkan karena eksistensi mereka yang masih menerpa penggemar di seluruh dunia menyusul tuntasnya tur keliling dunia mereka yang sukses dari Mei sampai akhir November lalu.
Oh, I'm still alive...
SETLIST
FOOTSTEPS
Rockin in the Free World, World Wide Suicide, Yellow Led Better
FREASBE
Hail Hail, MFC, I Am Mine, Do the Evolution, Even FLow, Porch, Rearviewmirror
GOT ID
In My Tree, Spin the Black Circle, Not For You, Lukin, Corduroy, I Got Id
STICK FIGURE (+Erwin COKELAT and Dendi KUNCI)
Black, Go, Blood, Jeremy, Alive, Animal
LORD MAHILA (+Nugie and Nito ALV)
Light Years, Off the Girl, Faithful, Evacuation, Given to Fly, Brain of J
Daughter, Jeremy, Betterman, Rearviewmirror, HUngerstrike, State of Love and Trust, Yellow Led Better
