Selasa, November 22, 2005

Gathering di Surabaya

All-round peserta gathering...at Daily Bread, Tunjungan Plasa I Surabaya, 20 Nov 2005
Gathering, atau acara berkumpul bareng fans Pearl Jam yang tergabung dalam wadah Pearl Jam Indonesia (PJ.Id) sudah beberapa kali diadakan. Tidak membatasi diri dengan agenda atau atau jumlah peserta, tetapi tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai bentuk sosialisasi dan silaturahmi antar-anggota. Sedikit menengok ke belakang, gathering atau "kopi darat" pertama kali diadakan di Jakarta lebih dari setahun yang lalu. Setelah itu beberapa kali diadakan di Jakarta dan dua kali di luar Jakarta, yaitu di Bandung dan di Bogor. Gathering Pearl Jam Indonesia yang terakhir diadakan di daerah timur, yaitu di Surabaya, pada Minggu 20 November 2005 lalu.

Duo Daily Bread "insider" yang berbaik hati memutarkan lagu-lagu Pearl Jam sebagai "soundtrack" setting, meski sehari-hari diputar musik jazz.
Acara kumpul khusus penggemar Pearl Jam dari daerah Surabaya dan sekitarnya (Malang dan Sidoarjo) ini digagas secara mendadak karena menyesuaikan dengan kegiatan masing-masing peserta gathering. Selain juga handicap wilayah yang membuat penyesuaian-penyesuaian sangat sulit dilakukan. Setelah disepakati pada dua hari sebelumnya, gathering diadakan pada hari Minggu pagi sebelum jam 12 siang, karena Alex harus bekerja pada jam tersebut. Jadilah acara gathering mini ini disepakati untuk diadakan dengan peserta minimal penulis, Awang (Malang) dan Alex, bertempat di "Daily Bread", cafe dan bakery di Tunjungan Plaza I, Surabaya.

Awang (kiri) menjelaskan sesuatu kepada Alex (tengah) dan penulis (kanan) tentang Pearl Jam.
Pada hari-H, waktu yang disepakati adalah sepagi mungkin venue buka, yaitu sekitar jam 10.30. Karena Awang berangkat dari luar kota, acara mundur sampai jam 10.00. Tetapi sesuai dengan ciri khas Indonesia, jam karet, semua peserta gathering baru berkumpul semuanya pada pukul setengah sebelas siang. Gathering diikuti oleh penulis, Awang dengan empat rekannya, dua dari Malang (Ifmi dan Hendra), serta dua dari Sidoarjo, meski bukan Jammers tetapi rela menunggu pertemuan dari freakazoids ini. Alex, sebagai "tuan rumah" membawa rekannya yang bekerja di Daily Bread untuk ikut bergabung, rendezvous, sambil ngobrol tentang Pearl Jam dan macem-macem lainnya.

Awang dan Hendra, salah seorang rekan yang "dicomot" Awang dari Malang, di-infiltrasi dengan banyak pengaruh Pearl Jam. Terutama meyakinkan bahwa kultur PJ di masa Ten tidak berubah sampai dengan Riot Act.
Secara spesial, Daily Bread sengaja memutar lagu-lagu Pearl Jam dalam "jukebox"-nya. Biasanya, kafe tersebut hanya memutar lagu-lagu yang jazzy sesuai dengan suasana lounge. Dengan latar lagu-lagu PJ tersebut, gathering makin seru membahas segala sesuatu tentang Pearl Jam. Mulai dari intepretasi "Not for You" yang selalu menjadi tema sensitif, scene "grunge" dan Seattle-Sound di Surabaya, influence-influence Pearl Jam sampai obrolan tentang Led Zeppelin. Tidak ketinggalan tentunya, acara sharing material antar-peserta. Awang membawa mp3 official bootlegs North America 2005-nya untuk di-share, dan penulis membawa kopi video Pearl Jam Unplugged 1993 serta PinkPop 1992. Sayang tidak ada yang membawa laptop sehingga bisa streaming di lokasi tersebut. Tetapi background musik dari jukebox kafe lumayan mengibur suasana.

Obrolan kadang berlangsung serius, dengan beberapa topik yang cukup mendapatkan atensi seperti masalah kata "Mohammad" di lagu Not For You.
Karena waktu yang terbatas, pada tengah hari gathering diakhiri. Bonus khusus dari Daily Bread sangat spesial dengan menggratiskan aneka kopi yang telah menemani acara gathering. Dengan semangat untuk kembali mengadakan gathering, serta membuat acara yang berhubungan dengan Pearl Jam di Surabaya, di masa yang akan datang, masa depan dari kegiatan ini sangat besar kemungkinannya untuk kembali diadakan. Tentunya dengan harapan penggemar PJ di Surabaya sudah makin bertambah. Bukti bahwa program share the Jam mulai berjalan dengan baik.

Ifmi (kanan), jammer dari kota Malang yang datang bersama Awang bersama salah seorang lagi rekannya yang berasal dari kota Sidoarjo. Koran bisa menyibukkan pikirannya dari obrolan peserta lain yang Pearl Jam-minded.
PS: Terima kasih sebesar-besarnya untuk seluruh peserta, dan sebagai catatan juga terima kasih khusus untuk Daily Bread sebagai "tempat bersejarah", yang telah menyediakan venue spesial.

Jumat, November 18, 2005

Resensi: Rough Demo got.ID

Seberapa jauh sebuah inspirasi mempengaruhi karya dalam bermusik? Creed pernah disebut sebagai nu-Pearl Jam, atau Seether dianggap sebagai Nirvana baru. tetapi apa yang dinilai dari Creed adalah karakter suara Scott Stapp yang mengikuti jejak bariton Eddie Vedder. Sementara latar musik mereka tidaklah seperti justifikasi sebagai nu-Pearl Jam. Begitu juga dengan model vokal Cobain pada lagu-lagu Seether. Secara keseluruhan, mereka tidak pernah berhasil menciptakan musik Pearl Jam atau Nirvana. Karena musik itu adalah masalah sound and soul.

Hal itulah yang dipahami oleh got.ID. Band asal Jakarta yang sangat terinspirasi oleh Pearl Jam ini tetap tidak berusaha untuk mengkopi Pearl Jam, atau untuk menjadi Pearl Jam-nya Indonesia hanya dengan sekedar memirip-miripkan salah satu bagian. Personil got.ID yang terdiri dari Arief (gitar, vokal), Ridha (gitar), Yosa (bas) dan Mayo (drum) ini membawa pengaruh masing-masing ke dalam karakter musik yang dihasilkan sebagai sebuah grup. Arief yang tumbuh dengan musik-musik Metallica membawa layer ritem dan kord yang cukup dominan untuk dilapis dengan komposisi hard rock-ish dari Ridha, seperti yang terdapat pada nomor instrumental "Koboy". Meski proses pendewasaan bermusik Ridha dimulai dari kecintaannya terhadap masa-masa grunge dahulu, tetapi root yang ditularkan Ridha ke dalam musik got.ID adalah vintage root, misalnya dalam melodi-melodi klasik pada track "Orang Tua Itu". Atau melapisi permainan ritem dalam "Fajar" yang dibentuk dari race antara beat drum Mayo dan dual kord dari Ridha yang menjadikan track ini terdengar seperti musik The Ramones. Sedangkan di dalam "Indah" Ridha menambah kesan "gelap" dari warna vokal bariton Arief dengan melodi-melodi panjang ala Binaural-nya Pearl Jam. Warna musik funky yang banyak masuk melaui Yosa bisa didengarkan pada "Terlalu", yang bergabung dengan komposisi kord punk ala musik grunge. Menghasilkan unifikasi dalam bentuk musik yang mirip dengan Pas Band pada masa rilis Indie[V]Duality.

Secara keseluruhan, got.ID bisa merangkum seperti apa influens mereka. Track-track dari demo yang total berisi 8 lagu tersebut menjelaskan root karakter musik Pearl Jam dari era Ten sampai Binaural. Musik yang keluar dari kerucut pengaruh musik masing-masing personal, sangat berisi dan jujur tanpa harus berusaha mirip dengan Pearl Jam. Meski pada akhirnya secara tidak langsung justru mereka menjadi bentukan band yang paling mirip dengan band yang lagunya masih sering mereka bawakan ketika konser tersebut. Tidak dalam versi mentahnya memang, tetapi landasan dan hasil yang keluar membuat mereka menjadi lebih progres dibanding band yang hanya menjiplak karakter suara Vedder dan mengklaim sebagai nu-Pearl Jam. Got.ID menghasilkan komposisi musik mereka sendiri. Secara sound dan soul musik mereka adalah hasil dari root mereka. Hal yang membuat pecinta musik "jujur" ala "grunge" pada awal 90-an bisa menjadi fans instan mereka. Highly recommended bagi pecinta musik alternatif berkualitas!



Tracks:
01. Orang Tua Itu 3:35
02. Terlalu 3:45
03. Fajar 4:02
04. Kosong 3:48
05. Indah 6:04
06. Terlanjur 2:11
07. Koboy (instrumental demo) 4:54
08. Lelah 4:11

Highlight:
Orang Tua Itu - Kombinasi antara gitar dengan vokal yang menjadikan musik ini lebih tebal melalui harmonisasi keduanya.
Fajar - Komposisi hirarkis antar-instrumen yang paten ditambah editing yang bagus menjadikan empat menit track ini sempurna.
Indah - Tak secerah judulnya, durasi enam menit menjadi berlipat ganda dengan alunan vokal yang gelap serta melodi panjang. Mike McCready berduet dengan Eddie Vedder di Nothing as it Seems? Atau Pink Floyd? Track yang paling apresiatif.
Lelah - Pearl Jam back in Ten era. Enuff said!

Overall:
I can't believe this record hasn't made out the label yet! What the fuck happened with our music industry?

*Berminat mencicipi demo mereka? Gw berencana bagi sampel-nya. Kirim email ke hilman_t@yahoo.com, kasi tau kemana gw musti kirim! Gratis...

Kamis, November 17, 2005

Ten Essential Live

Ngelanjutin intro to Pearl Jam kemaren, berikut gw coba translate artikel dari fivehorizons, tentang sepuluh konser terbaik Pearl Jam sampai tahun 2000. Dari era gila sampai tragedi Roskilde yang hampir membunuh rentang perjalanan grup musik yang diisi oleh Ed Vedder, Stone Gossard, Jeff Ament dan Mike McCready. Serta drummers mereka, respectively. Beberapa dokumentasi dari konser-konser di sini kebetulan gw punya kopinya (video atau mp3), dan sangat ngga keberatan untuk men-share dengan yang berminat. Gratis tentunya, hanya modal sabar sajalah...apalagi yang berbeda lokasi domisili. Yang jelas rangkaian konser ini menggaris bawahi Pearl Jam sebagai band yang besar dari live-act mereka, dibanding blow up media. Dikenal bukan dari promo tapi sisi "legendaris" mereka sebagai band indie yang tetap bersahaja walaupun sudah ada dalam jalur industri musik.



THE OFF RAMP, SEATTLE, OCTOBER 22, 1990 ...Show pertama Pearl Jam di sebuah klub. Masih bernama Mookie Blaylock, jelang launching album perdana dan berganti menjadi Pearl Jam. Dengan suara bariton khas Vedder, langsung bikin kagum pengunjung klub. Introduksi Pearl Jam to the community? Lebih tepatnya intro Ed ke komunitas, since Jeff dan Stone adalah "seleb" juga di Seattle (Mother Love Bone).

COW PALACE, SAN FRANCISCO, DECEMBER 31, 1991 Pearl Jam membuka konser Nirvana dan Red Hot Chilli Pepers. How they dealt with it? Aksi gila! Jeff melompati ampli, Ed memanjat tower yang tinggi dan stage-dive ke penonton. Ber-crowd surf sejenak, dan "berenang" kembali ke panggung tanpa sepatu..hehe.

notes: Ed berkomentar, "If I wasn't in this band, I would still make sure I was here tonight." Flea, bassis RHCP jadi vokalis pendukung dengan suara cempreng-nya di 'Leash.' Stone Gossard sempet maenin riff-nya "Smell Like Teen Spirit" dan nyanyi juga actually...mayan lama dan dengan enteng ngomong, "Just remember, we played it first." Hohohoho...

MTV UNPLUGGED, MARCH 16, 1992 Show Unplugged yang paling ngga' MTV mungkin. Tetep ngebawa sisi liar personel Pearl Jam, especially Jeff dan Ed. Di tengah-tengah jammin' Porch, Ed naek kursi, dan nulis "PRO CHOICE" di lengan kirinya. Sementara Jeff play wildly...teteup! Show yang memicu "jealous"-nya Kurt Cobain sebagai "tindakan yang direncana"...ah apalah itu namanya. Yang jelas emang lebih ngejual "Unplugged in New York"-nya Nirvana dibanding Pearl Jam. Tapi bagi fans Pearl Jam, yang tampil di Astoria malam itu adalah Pearl Jam yang mereka kenal.

ALPINE VALLEY, EAST TROY, WISCONSIN, AUGUST 29 1992 Aksi liar seperti biasa, Jeff yang kesurupan, "duck-walk"-nya Gossard, serta polah reguler Vedder. Manjat sampe atap amphitheater, trus jadi "tarzan" dengan berayun make tali ke arah mosh-pit.

MTV VIDEO MUSIC AWARDS, SEPTEMBER 3, 1993 Sebulan sebelum launching "Versus", setelah maen Animal, Pearl Jam ngundang "surprise guest" yang ngga make "announcement" atau basa-basi (langsung hajar bleh)...Neil Young, yang maenin lagu dia sendiri, Rockin in the Free World. Nuthin special, kecuali Ed yang mabok berat (sepanjang lagu cuman nunduk berat, jauh dari kesan rockstar), Mike yang banting gitar sama Jeff yang nendang ampli. Apakah ini show MTV? Hehehehe...tetep tampil seperti adanya mereka. Oya, sebelum manggung, Ed sama Kurt Cobain "dansa" di bawah panggung pas Eric Clapton ngebawain Tears in Heaven. All of sudden, rumor yang diblow up media soal konfrontasi Nirvana-Pearl Jam langsung basi!

SATURDAY NIGHT LIVE , APRIL 16, 1994 Di akhir lagu, Ed naruh tangan di dadanya, di atas tulisan "K" yang ada di kaos-nya. Buat info, ini show dilakukan beberapa saat setelah Kurt Cobain meninggal dunia, dan seluruh member band masih shock dengan kondisi itu. Dan lagu "Not For You" paling indah yang bisa didenger dengan luapan emosi paling meluap sepanjang sejarah show Pearl Jam. Still, over-popularity adalah jalan pintas ke kematian. And this is the way Pearl Jam blame the corporate media for their best friend' death.

SOLDIER FIELD, CHICAGO, JULY 11, 1995 Empat puluh tujuh ribu fans bersorak "Ticketmaster sucks!" tanpa dikomando. Sebuah penghormatan bagi Pearl Jam yang di-ban dari tur konser gara-gara memperjuangkan tiket murah untuk fans-nya. Kemenangan untuk dedikasi dan loyalitas terhadap fans, dan anti-komersialisme. Ini adalah satu diantara sekian konser yang diadakan pada masa pencekalan konser Pearl Jam. Biasanya Pearl Jam ngga kebagian venue untuk konser karena dimonopoli Ticketmaster. Dan untuk "demo" dari fans di Chicago ini, Pearl Jam menghadiahi 3 jam penuh konser. Hampir semua lagu dari katalog Pearl Jam, ditambah lagu covers dan juga improvisasi-improvisasi dikeluarkan untuk menjadi salah satu konser "indie" terbesar sepanjang masa.

RANDALL'S ISLAND, NEW YORK CITY SEPTEMBER 29, 1996 Tur "Indie" kedua, masih dalam rangka pencekalan oleh Ticketmaster. Ed Vedder melakukan "demo"-nya sendiri. Mata ditutup pake gabus dan "membungkus" diri memakai lakban. Oya ada juga quote terkenal-nya Ved:
"If you trust me at all, if you want to listen to me at all..but you certainly don't have to...speaking from experience, I can tell you that things change. You can believe me, you don't have to. They probably won't change unless you make them. The best way to change something that's around you, something you don't like, is to change yourself. And I don't think you want other people changing you, I think the only person that can change you is yourself. So if you ain't happy, if you're reading magazines about generation x-ers and thinking 'yeah, I'm one of them', well fuck that. Don't let anyone tell you who you are. No, no. No one can tell me who I am. I can tell you who I am, but that would be a long story. I could tell you who I am and it wouldn't fit in a Rolling Stone. If wouldn't fit in a video...it's my life, it's your life. You're the only one who knows who you are. I hope you know who you are, figure it out. Cause you are somebody. And I'm probably stating the obvious, but I just thought I'd do it anyway. So if you feel like you've got a piece of duct tape on your mouth, if you feel like you can't speak, take it off, speak up, speak your mind, shout it out,let em hear, shout it out."


MADISON SQUARE GARDEN, NEW YORK CITY SEPTEMBER 11, 1998 Breath pertama kali dimaenin, setelah ribuan fans "menuntut". 20.000 fans berdiri dan ikut bernyanyi. Dalam show ini juga, duet melankolis antara Pearl Jam dan Ben Harper pertama kali terjadi dalam lagu "Indifference". Versi "kopi"-nya bisa dilihat di video Live at the Garden, 5 tahun menjelang, meski beberapa kali diulang dalam Bridge School Benefit-nya Neil Young.

KEY ARENA, SEATTLE, NOVEMBER 6, 2000 Setelah tragedi Roskilde (9 orang fans meninggal dunia tergencet), Pearl Jam memutuskan untuk tetep maju terus, meski sebelumnya sempet memutuskan pensiun dari dunia musik. Tur Amrik kemudian dilanjutkan dalam suasana duka. Di show pertama, barisan depan (front row) fans mengibarkan spanduk "How are you doing? Hope you're okay!". Ed bilang itu memberi kekuatan pada band untuk menyelesaikan tur mereka. Dan di akhir, di Seattle, barisan komunitas 90-s Seattle datang untuk memberikan dukungan. Personel Alice in Chains, Soundgarden, Nirvana, Mudhoney, Neil Young, Pete Townshend dan sebagainya datang dalam show penutup ini. Seolah menjadi "kemenangan" psikologis Pearl Jam setelah beratnya duka setelah targedi Roskilde. Show yang digeber sampe jam 1:30. Tanpa melupakan 9 jiwa yang melayang dalam tragedi, untuk dua tahun ke depan diabadikan dalam repertoar "Love Boat Captain".

Sampai sekarang Pearl Jam teteup eksis, mengibarkan semangat 90's yang memudar. Semangat untuk DIY, tidak tergantung sama korporat dan ekspresif. Puluhan konser legendaris masih dicatat setelah tahun 2000 itu. Tur Riot Act tahun 2003 mencatat banyak peristiwa kontroversial sehubungan dengan hujatan Pearl Jam atas George W. Bush. Ngga tanggung-tanggung, di Aussie bahkan Ed mengatakan kalo PM Aussie mem-blow job George W. make mulut-mulut mereka (rakyat Aussie). The same old Ed...The same old band...The same spirit.

Selasa, November 15, 2005

Stone Featuring at Meganut Solo Album

Gitaris Pearl Jam, Stone Gossard terlibat dalam pembuatan album MegaNut, "That Would be Dope". Stoney ikut memproduserin satu lagu, sekaligus bermain gitar di salah satu track side project band-nya Lonnie "Meganut" Marshall, bassis Weapon of Choice. Album ini digambarkan sebagai album yang "furiously funky", sesuai dengan kapasitas si Lonnie "Meganut" Marshall sebagai bassis funk legendaris. Stone sendiri, selain dengan Pearl Jam juga telah mengeluarkan tiga buah album side project bersama grup-nya "Brad".

MegaNut available at tenclub store.